Rabu, 06 Agustus 2008

Mas-mas itu ternyata

(Judul di atas menarik perhatian para blogger di MP nggak yah?)
Guys, sempat berfikir berapa kali waktu mau post tulisan ini, penting nggak yah?penting nggak sih? Terjadi pertentangan batin yang cukup sengit di dalam diriku. (mendramatisir, hehehe) Akhirnya yah di penting-pentingkan untuk mencegah terjadinya dampak yang lebih parah lagi sekaligus mencegah virus salah kaprah menyebar lebih luas lagi. Itung-itung konferensi pers lah untuk mengklarifikasi masalah sebenarnyaa (Apa judul nih?)
Yah, sebenarnya bukan masalah yang krusial bagi sebagian orang tapi...

Well, langsung aja yah, begini ceritanya. Dari nama blog ini, banyak yang menyangka kalo DHARMALA MAJID itu mas-mas alias cowok, atawa pria, or lelaki. (salah satunya dengan sangat jujurnya mengatakan nama blog ini maskulin banget, bla..bla..the rest of comment was sensored for avoiding unwillng things happens: juga melindungi sang pemberi komentar dari penculikan dan aksi sabotase, hehehe). Please deh, apa nama DHARMALA itu tidak cukup girly?Tidakkah cukup untuk menunjukkan sisi kefeminisan saya? Awalnya agak gemas juga. Tapi saya lalu bisa memakluminya dan MENCOBA berbesar hati plus berpikiran POSITIF.Ya, mungkin saja mereka cuma melihatnya sekilas (Moga-moga sih tidak sebelah mata), jadi yang terbaca cuma MAJID-nya saja. Makanya dikira cowok. Saya jadi curious apakah Sheila Majid juga dikira cowok waktu pertama kalinya muncul di depan publik Malaysia?

Awalnya saya tidak mengacuhkannya, tapi kok semakin banyak yang mengira Dharma itu laki-laki? Makanya sejak 3 hari yang lalu, saya terpaksa (dengan senang hati) saya memajang sebagian foto narsis dirikyu) di prolog blog, tentunya dengan harap-harap cemas semoga kasus salah kaprah terhadap jenis kelamin si empunya blog berhenti sampai di situ (Well, tidak penting kan?hihihi) No, it just sounds weird hearing your self called ”mas” apalagi di Makassar sana, saya terbiasa dipanggil dengan sebutan’kakak'

Heeyyy, nggak sopan banget sih, jangan cabut dulu dong dari sini, belum selesai ceritanya. Nah gitu dong, makacih ya .

Sebenarnya salah perkiraan kalo Dharma itu cowok tidak hanya terjadi di dunia YM dan per-blog-an (afiksasi yang dipaksakan), tapi juga di dunia nyata, Saudara-Saudara. Sudah sering dan berulang-ulang. Semakin sering ketika saya hijrah ke Kalteng. Berikut penggalan kisahnya:

Case #1
Beberapa bulan setelah lulus kuliah, saya ditawari pekerjaan untuk jadi interpreter di sebuah perusahaan di NAD (Nangroe Aceh Darussalam). Waktu itu sekitar awal tahun 2006, ketika saya masih menetap di Makassar. Saya tertarik secara semua biaya akomodasi dan living place semua ditanggung oleh perusahaan. Lagipula saya sangat ingin melihat Aceh pasca Tsunami dengan mata kepala dan mata kaki saya sendiri (siapa tau masih sempat nyambi jadi sukarelawan getooo). Lalu, teman yang menawari pekerjaan itu memberikan nomor ponsel saya kepada manajer personalia perusahaan di Aceh tadi, sebut saja namanya P’ Budi. Akhirnya P’Budi menelpon dan meminta saya untuk melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Beliau juga meminta saya segera mengefax CV dan ijazah terakhir. Pak Budi lalu menjelaskan dengan sedikit banyak tentang perusahaan tempatnya bekerja (Lumayan tiring, karena dia memakai telpon kantor yang setiap 3 menit harus putus, Fyiii). Saya pun menyanggupinya. Tuhan berkata lain, besoknya saya harus pulang ke Bone karena kakek meninggal. Saya pun lupa sama sekali akan pekerjaan itu. Setelah 3 hari kemudian, salah seorang teman P’Budi menelpon untuk menanyakan kesanggupan saya lagi. Berikut rekaman percakapan kami(yang alhamdulilah tidak disadap oleh badan intelijen dan pihak Pengadilan Tipikor :)

Teman P’Budi : ”Halo?”
Saya : ”Ya halo?”
Teman P’Budi : ”Ya, halo. Saya dari PT A (nama perusahaan
disembunyikan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut). Pak
Dharma-nya ada?”
Saya : ”Ya halo, ini dengan Dharma sendiri”.
Teman P’Budi : ”Ya? Begitu yah? Kalau begitu tolong sampaikan
pada P’Dharma kalo kami menelpon ya, terima
kasih”. Klik...tit....tit...tit, sambungan putus.

Padahal saya baru saja mau bilang kalau Dharma yang dicarinya itu ya saya ini. Tapi ya sudahlah, prosesi pemakaman kakek lebih menyita perhatianku.
Keesokan harinya.

Teman P’Budi :” Halo, bisa bicara dengan Dharma?”
Saya : ”Iya Pak, saya sendiri”.
Teman P Budi : ” ....(diam sejenak) Oh jadi Dharma itu perempuan
ya? Saya kira laki-laki, maaf ya Bu...Bagaimana
dengan....bla..bla..bla” ( Ya ampun, dianya baru
ngudeng)

Singkat cerita saya tidak tidak jadi berangkat karena keluarga besar saya tidak rela melepas putri dan cucu tersayangnya(narsis) mengantar nyawa ke sarang GAM.


Case #2
Ketika saya akhirnya berkerja di Kalteng, saya menemukan penyebab mengapa saya lebih sering dikira laki-laki ketimbang perempuan.
Saya datang paling terakhir dari semua karyawan yang berasal dari luar Kalteng.
Ketika saya memperkenalkan diri, saya meminta mereka memanggil dengan nama ’Dharma’ saja. Salah satu diantara mereka nyeletuk, ”kenapa bukan Wati De?(nama lengkap saya darmawati) Darma itu kan nama cowok?

Saya cuma mesem-mesem (maklum anak baru, msih jaim) lalu menanggapi” Oh-ya-?
”Di pulau Jawa itu semua pemilik nama darma itu laki-laki loh De”.(Si Ibu masih ngotot rupanya. Loh Bu, inikan bukan Pulau Jawa, kataku yang tentunya di dalam hati saja)

Iya Ma’, (teman yang lain menimpali) waktu Farah nyebut-nyebut nama kamu, kami kira Darma itu cowok loh”. (Farah ini adalah teman kantor asal Makassar yang duluan memunculkan diri di kantor)

Lagi-lagi saya cuma mesem-mesem.
(saya ingat akan salah satu peserta kontes menyanyi di salah satu TV swasta yang kebetulan namanya juga Dharma, dan sang empunya nama memang cowok)

That was my first day in the office.

Case #3
Kasus terjadi ketika salah seorang kolega kepala tata usaha (KTU) di kantor butuh tenaga pengajar untuk memberi les privat bahasa Inggris pada dua orang putranya. Ceritanya Bu Titik (sang KTU) bertemu dengan P’ Toyib, di bank. Nah P’Toyib ini curhat kalo dia lagi butuh pengajar. Bu Titik pun merekomendasikan saya dan berjanji untuk secepatnya memberi kepastian pada P’Toyib mengenai siap atau tidaknya saya mengajari anaknya. Keesokan harinya Bu Titik pun bilang ke saya, juga memberi nomor ponsel P’ Toyib..Saya menerima tawaran itu dan menghubungi P’Toyib melalui sms (Kata B’Titik, P’Toyib ini orang sibuk, jadi sms lebih efektif). Tak lama saya pun mengirim sms ke dia mengenai kesanggupan saya mengajar anaknya, dan di akhir pesan saya tidak lupa mengetik nama” Dharma’ (terlalu panjang kan kalo harus mengetik Dharmawati?) Then, message sent.
Tak lama, balasan sms saya masuk.
”Bentar y Mas, saya lagi meeting. Nanti saya hubungi mas lagi”

Saya tertegun... lalu tersenyum.
Saya membalasnya lagi: “Maaf pak, saya perempuan loh”
Dia sempat membalas: Aduh maaf mbak, saya kira mbak laki-laki. Sekali lagi maaf.


Case#4
Waktu itu Bos menyuruh saya mengirim profil kantor via email ke sebuah surat kabar harian di Kalteng. Lagi-lagi dengan membubuhkan nama ‘Dharma’(demi alasan efisiensi) di akhir surat sebagai tertanda penanggung jawab .
Sorenya, email itu dibalas dan bunyinya begini

“Mas Dharma, emailnya sudah saya baca dan akan kami tindak lanjuti secepatnya.”

Saya membacanya dan segera berniat menemui bos untuk memberitahukan perihal email ini, WHHHAAAT?

MAS?mata saya terarah pada tiga kata di awal surat itu..
Oh no. Lagi..lagi mas..


Case #5
Terjadi kira-kira 8 hari yang lalu sewaktu saya posting beberapa foto senja di site MP ini. Trus ada komentar yang masuk...

nice senja... kang.. salam jepret!
(buat mangibro, maap yah...)

Senang karena foto itu mendapat tanggapan positif, tapi WHATTT? Kang?
Aduh, ini apa lagi, kemarin mas, sekarang kang. Kakang apanya?(Ini kata saya sewot sambil memasang monyong”mode on di bibir)
Bukannya kang itu panggilan akrab kepada laki-laki di masyarakat sunda?
Hehehe, ternyata saya memang maskulin yah
Saya balas lomentar itu:

Thanks..tapi aku seorang teteh, bukannya kakang...hehehe.Thanks anyway..


Saya pun akhirnya menulis”di guesbook saya dan guestbook beberapa pengunjung sebagai berikut:


Dangke everyone, but halloooo...kok banyak yang nyangka saya cowok yah? hehehehe
Yeah though it is not the first time people though that I am a man, but it still weird you know, hikss..hiks.
Tapi GPP deh,,,,
Thanks guys..
Love you all
Hiks..hiksss.


Case #6
Ternyata cara di atas tidak berhasil karena kemarin, waktu saya ngasih komentar di salah satu situs MP teman,

Ada yang membalas komen saya dan menyapa saya dengan mas...dan saya membalas sapaan itu dengan : lagi-lagi mas...lagi-lagi mas dan sampai detik ini sudah ada beberapa pengunjung blog saya yang masih mengira saya cowok!

Dan Saudara-saudara, tadi pagi, ketika lagi-lagi kasih comment di tulisan temen, saya mendapat sapaan baru, yakni...'bang'. Besok mungkin kisanak (ini mungkin masih mending), bung, kek(kakek), dkk

Fyiiiiih, life is though indeed


So here I am. Menulis tentang nama saya. Dan berharap setelah ini tidak ada lagi yang mengira saya laki-laki (takut donk, nanti ada another Rian yang penasaran dan tertarik akan diriku, Hiiiiii syeremm)...

(Just for fun people, do not take it too serious, hehehe). Have a great day.

Tidak ada komentar: