Melihat kemenangan Markis KIDO dan Hendra SETIAWAN Sabtu malam yang dramatis dan mengesankan, seolah kembali memekarkan kuncup-kuncup nasionalisme dalam diri ini yang hampir layu. Mereka berhasil menyumbangkan emas pertama, kembali mengharumkan nama bangsa ini, alunan Indonesia Raya pun kembali bergema di Beijing University of Technology Gymnasium, Subhanallah. Kemenangan tentu saja merupakan kado yang sangat indah dan luar biasa menjelang detik-detik perayaan dirgahayu Indonesia yang ke -63.
Saya lalu bertanya, apa yang telah kuberikan untuk negara ini?.
Tempatku lahir dan dibesarkan.
Yang udaranya kuhirup setiap saat. Menikmati hasil alamnya.
Negara yang membuat banyak negara di dunia ini iri dan diam-diam punya hasrat terpendam untuk menyulap negara mereka menjadi sekaya dan sesubur negeri ini. Negeri yang kekayaan laut dan pasirnya banyak dicuri.
Apa yang telah saya lakukan untuk negara ini?
Nothing!!! Tidak ada sama sekali
Yang ada saya hanya bisa MENGELUH
Yang ada saya terus MENGUMPAT
Saya bisanya cuma MENGUTUK pemerintah yang tidak becus mengurusi rakyatnya.
Seolah saya TAHU pasti cara menyelesaikan masalah sebenarnya.
Pernah aku menyaksikan siaran TV mengenai subsidi BBM ketika demo kenaikan BBM ramai di mana-mana, aku jadi terdiam kala narasumbernya memberitahu besarnya subsidi yang diberikan pemerintah. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya harus membeli bensin dengan harga 12 sampai 15 ribu perliternya. 6 ribu saja sudah agak memberatkan. Fyii, ternyata aku cuma bisa mengeluh tanpa berfikir dibalik setiap keputusan yang diambil pemerintah.
Salah seorang teman bahkan pernah nyeletuk ketika aku mengeluh tingginya harga BBM, dia bilang, Ma’ masih untung kita masih bisa dapat BBM, coba kalau harganya murah 2000 rupiah tapi kamu harus mencarinya sampai di Papua sana, bagaimana?
Hehehe, iya juga sih.
Itu baru masalah BBM, belum lagi keluhanku mengenai kinerja Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang dipelesetkan dengan seenaknya menjadi Perusahaan Lilin Negara. Belum masalah TKI, bla..bla..
Yah walaupun memang tampak banyak penyalahgunaan sana sini
Juga banyak koruptor yang masih melenggang kangkung, ongkang-ongkang kaki di istana megahnya setelah mengeruk kekayaan negara ini tanpa merasa tidak berdosa sama sekali.
Meski para anggota gedung bundar terlalu rajin studi banding.
Meski penyelewengan, ketimpangan, ketidakadilan, dan ketidakmerataan terus terjadi. Juga pelanggaran HAM yang belum terpecahkan
(nah kan, lagi-lagi mengeluh!:-)
Setidaknya saya tidak memperburuk keadaan dengan terus mencaci maki dan menyumpah-serapahi pemerintah, terus mengeluhkan keadaan, terus BERKOAR tanpa melakukan sesuatu untuk merubah keadaan.
Juga tidak lagi memandang para bakal calon presiden independen itu dengan sebelah mata.
(Setidaknya mereka sudah berani BERBUAT -mengeluarkan-dana-yang-tidak-sedikit-untuk-membuat-iklan-politik, berani MENYONSONG celaan dan ketidakpercayaan dari rakyat yang sudah muak dengan janji semu)
Seandainya aku ada di posisi mereka bisakah saya melakukan yang lebih baik?
Sementara pekerjaan kantor saja saya masih sering kewalahan
Urusan pribadi saja masih sering membuatku tidak fokus mejalankan tanggung jawab di kantor.
Urusan rumah masih sering terbengkalai
Manajemen waktuku selalu keteteran
Pusing mengenai pekerjaan mana yang harus kuprioritaskan.
Mulai sekarang.
Saya mau berhenti mengeluh.
Berhenti mengutuk.
Berhenti mengumpat.
Seperti iklan salah satu rokok ”TALK LESS, DO MORE!”
Dan bagaimanapun saya harus tetap BANGGA jadi orang Indonesia
P.S. To name few, Krt. Gaura Mancacaritadipura (Dalang berkebangsaan Australia) dan Wahyu Soeparno Putra (Orang Aussie juga).Orang asing saja begitu ingin dan bangga menjadi warga Negara Indonesia.(Link Kick Andy).mengapa saya tidak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar