Di depan rumah tinggal pasangan suami istri yang juga sudah berusia lanjut, Pak Firman dan istrinya. Di rumah itu hanya tinggal mereka berdua karena anak-anak mereka telah menikah dan telah memiliki rumah sendiri. Hampir setiap malam ketika saya pulang kantor, saya melihat mereka sedang ngobrol di teras. Duduk berdekatan satu sama lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, saya terkadang mendapati mereka tertawa bersama. Betapa harmonisnya.
Di kompleks, juga ada pasangan lain berusia lanjut yang rutin main bulutangkis setiap pagi.
Awalnya saya berfikir mereka Rani dan Asha, putri Pak Agus yang tinggal di sebelah. Tapi pas saya lihat ternyata Pak Putra dan istrinya. Just in case kalo ada yang penasaran, usia mereka berkisar 60 tahun, dan mereka melakukan itu hampir tiap pagi.
Trus, sesampainya di kantor, saya dikagetkan oleh kabar perceraian Jejen, supir pribadi bos. Istri Jejen, tidak sanggup lagi menjalani pernikahan mereka. Padahal usia perkawinan mereka baru memasuki bulan ke delapan. Tidak jelas alasannya mengapa mereka sampai bercerai. Saya hanya ingat 6 bulan lalu , mereka tampak begitu mesra dan sangat saling mencintai. And now, where is the love goin’?Kemana perginya ikrar-janji-suci-sehidup- semati yang mereka ucapkan di depan penghulu dulu?
Saya telah melihat begitu banyak air mata yang harus keluar karena perselingkuhan, menemukan begitu banyak perceraian yang terjadi karena alasan yang terkadang menurut saya tidak logis dan dibuat-buat (alasan sibuklah, no more love, sudah tidak cocok, jenuh, can’t enjoy the sex anymore, hadirnya PIL ataupun WIL, mertua yang campur tangan, istri lebih sukses, dll). Saya juga sudah begitu sering mendengar tagline” Tidak cocok ya cerai”!, Ck..ck..ck. (Betapa tagline andal yang akan menambah pundi-pundi uang sang pengacara perceraian). Tidakkah mereka tahu kalau cerai itu sangat dibenci Rasullulah? Berapa banyak jiwa kecil yang tak berdosa yang harus menanggung akibat perceraian orangtuanya? (Tidakkah mereka berfikir dampak psikologis terhadap sang anak di kemudian hari yang bisa saja menjadi seorang pembunuh berdarah dingin?Well, mungkin ini agak berlebihan, tapi bisa saja kan?). Atau mereka terlalu mementingkan perasaan yang sudah tidak bisa (baca: mau) kompromi dengan pasangan sehingga perasaan sang anak dikebelakangkan?
Saya lalu bertanya pada diri sendiri , akankah saya dengan pasangan saya kelak mampu mempertahankan hubungan kami sampai usia lanjut seperti mereka? Mampukah kami melalui berbagai konflik rumah tangga (which is sounds scary this lately) hingga maut memisahkan kami?
Pertanyaan lain muncul, apakah saya bisa menghadapi kekerasan hati pasangan dengan kepala dingin ketika kami beradu pendapat?
Bisakah saya mentolerir kelakuan pasangan yang tidak masuk akal?Bahkan kemungkinan terburuk, kalau dia selingkuh, apa saya mampu memaafkan?
Pertanyaan yang lalu membekas di kepala saya adalah apa yang membuat perkawinan opa dan oma, Pak Firman, Pak Putra, juga pasangan kakek nenek yang saya temui tadi pagi, bisa langgeng dan harmonis sampai tua? Sementara di luar sana, banyak perkawinan yang harus kandas, banyak pasangan yang begitu mudahnya mengambil perceraian sebagai jalan keluar yang terbaik. Tidak terhitung pula sudah berapa banyak perceraian pasangan muda yang notabene selalu menampakkan kemesraan di sana-sini.
Adalah komitmen yang membuat seseorang mampu menyelam ke palung lautan terdalam, mendaki gunung tertinggi demi seseorang yang dia sayangi. Komitmen pula yang membuat seorang istri bersabar menunggu suaminya pulang malam, atau bahkan suami yang setiap minggu dinas di luar kota. Komitmen juga yang membuat seorang suami selalu bersuka cita setiap ia pulang ke rumah karena ada seseorang yang selalu siap jadi tempatnya bersandar dan berbagi. Seseorang yang mampu menyejukkan harinya kala penat mencangkungi hari.
Mungkin benar kalau kita tidak perlu setumpuk teori dan tips supaya hubungan dengan pasangan kita tetap langgeng sampai kakek nenek, karena kondisi setiap pasangan tentu berbeda satu sama lain. Yang ada, kita hanya perlu komitmen untuk menjalani hubungan itu apa adanya. Ya, mungkin kita hanya perlu komitmen, merasakan pahit manisnya pertengkaran dengan pasangan, lalu mencoba memetik berkah terselubung dari setiap kejadian yang menguras energi dan emosi masing-masing,
Jadi, percayakah kamu akan kekuatan bernama komitmen? How far commitment will take you?
To me, love will never be enough without a commitment. Till-death-do-us-apart- vow is nothing if you haven’t ready yet to commit, how deep your love is.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar