Tarik-tarikan dan aku-mengakui sesuatu sebagai milik pribadi sudah sering terjadi di republik ini. Dari persoalaan ketebelece atau hal yang paling sepele sekalipun sampai yang menyangkut kepentingan khalayak banyak, menyinggung semua aspek kehidupan. Dari pacar sampai selingkuhan semua diperebutkan. Dari persoalan remeh-temeh sampai menyangkut permasalahatan umat.
Beberapa waktu lalu, kita sempat digegerkan oleh pemerintah negara tetangga yang mengakui hasil kebudayaan yang notabene adalah hasil kebuadayan
Sampai kemarin rekan kita sesama blogger di MP ada yang membeberkan kalau tulisannya telah dipindahkan kesitus lain( baca: dijiplak-plak).
Saya tertegun.
Lalu bertanya kita gabung di MP karena apa sih?
Ingin sekadar menunjukkan eksistensi, numpang populer, lalu kita bisa menggunakan segala cara? Atau nyari obyekan? nyari mangsa, nyari pacar atau apa?
Atau murni berbagi pendapat dan bertukar pikiran?
Mencari solusi dari permasalahan kita atau apa?
Hak paten, undang-undang hak cipta, bla..bla. Kata-kata ini terus berkecamuk di benak saya, menyisakan tanya” akar permasalahannya di mana???
Bukankan ada kode etik?
Kalaupun ingin menampilkan tulisan orang di blog kita, apa susahnya mencantumkan nama penulis aslinya atau sumber tulisan itu?
Bukankah kita semua pernah diajari (setidaknya pernah mendengar etika mengutip karya/pendapat orang lain di bangku sekolah dulu, kalau pernah sekolah ya...)
Kalaupun kita tidak serius menulis, setidaknya tidak ada salahnya tahu aturan. Bukankah dari 24 abjad yang ada dalam bahasa Indonesia bisa dirangkai menjadi trilliunan kata dan kalimat? Lalu kenapa harus menulis yang persis sama?
Mengangkat hal /tema yang sama tentunya dapat dimaklumi selama kita memandangnya dari sudut pandang yang berbeda (jadi ingat, Adthit, apa kabar sapinya
Ya, kembali ke sudut pandang.
Intinya adalah nurani. Kalau kata Eka Budianta mah” menulis dengan hati (tidak cuma juri Indonesia idol atau kontes menyanyi di jagad manapun menyarankan kalau kita untuk menyanyi dengan hati) dan baiknya semua diaplikasikan ke semua aspek kehidupan kita. Melakukan segala sesuatunya dengan hati, dalam artian tidak setengah-setengah-fully hearted. Getooooo!
Dari hasil penyelusuran di dunia maya, saya melihat begitu banyak penulis berbakat (yang rendah hati) seimbang dengan banyaknya mereka yang hanya sekedar corat-coret tak jelas (saya juga mungkin termasuk di dalamnya)
Bukankah kita tahu bahwa suatu hari apa yang kita tulis itu akan dimintai pertanggung jawabannya kelak?
Kita mungkin tidak pernah repot membayangkan dampak tulisan kita bagi orang lain (yang bisa saja membuat orang sakit hati ingin bunuh diri saja, well ini berlebihan)
Atau setidaknya ada yang jatuh cinta pada kita atau bahkan benci sama sekali.
Tapi setidaknya menurut saya, tidak ada salahnya membagi pengalaman kita ke orang lain, tapi langkah bagusnya jika apa yang kita tulis itu membawa manfaat positif bagi orang lain, dapat pahala kan?
Tapi kalau menjiplak? Aduh, masa sih kita kalah ama anak atau adik-adik kita yang masih berseragam merah putih itu? Mereka aja bisa mengarang apalagi kita?
Apa salahnya memanfaatkan kemampuan hebat kita mengarang bebas saat ujian dadakan-itu dipergunakan?
Saya yakin memori komputer akan membludak bila harus menampung semua ide brilian manusia.
Tapi saya cuma mau mengajak ayolah,
kita semua punya nurani kan? Kok ga dipake sih?
Kita punya otak, kok disia-siakan sih?
Kita punya hati, kok dikotori sih?
Mari menulis tentang apapun
Mari berbagi segalanya
Setidaknya kita perlu menghargai keringat orang yang mungkin sudah begadang beberapa malam bahkan tidak makan tiga hari tiga malam dan positif malnutrisi demi menyelesaikan tulisannya, eh kita seenak udel meng-copy–paste karyanya lalu menaruhnya di blog kita tanpa ada keterangan mengenai si empunya tulisan dan ucapan terima kasih sekalipun pada pada yang bersangkutan.
Memang tidak semuanya seperti itu, tapi jika ada yang berbuat, kita seharusnya harus merasa kasihan karena orang itu ternyata masih minim kreatifitas (lalu memakluminya) Juka karena dia begitu cerobohnya memasukkan hasil kreatifnya itu(baca:jiplakannya) ke dunia yang bisa diakses dari titik manapun di dunia ini.
Lebih jauh tentang Plagiarisme, klik disini : http://en.wikipedia.org/wiki/Plagiarism
Tidak ada komentar:
Posting Komentar