Rabu, 03 September 2008

Cukup sudah!

5 tahun berlalu. Tepatnya 1775 hari yang lalu. Selama itu, Diandra berkubang dalam perasaannya sendiri. Masa lalu seolah tak pernah membiarkannya melangkah dan memulai hidupnya. Hidupnya yang hancur setelah lelaki yang menjadi pusat segala baginya pergi. Begitu saja.

Diandra sudah lelah dengan perasaan itu. Ia mau menukar apa saja yang ia miliki untuk membuat segalanya lebih baik. Tapi sepertinya semua jalan sudah tertutup. Ia sudah terlanjur terjebak dalam pusaran arus yang ia buat sendiri. Ia sudah tidak bisa keluar lagi, walau batinnya terus berontak. Hati kecilnya terus berteriak ini tidak benar.

Bukankah semua orang berhak bahagia?

akal dan hati yang terus menyerukan hal yang berlawanan membuatnya semakin tak menentu.

lagi-lagi mimpi itu

ia terbangun dengan nafas sesak

Tuhan, kapan rentetan mimpi buruk ini berakhir

Tapi ia tidak sanggup melawan perasaannya sendiri

Gion begitu memujanya, membuat dunia yang lebih indah dari dunia yang begitu monoton dengan segala kepenatan di dalammna

Padanya, ia tak perlu menjadi siapa-siapa

Padanya , ia tak perlu berpura-pura tegar

Gion telah menunjukkan dunia baru

Telpon-telponna-sms-smsnya

Membuat ia begitu melambung

Namun perempuan itu menghancurkan semua mimpinya

Ia ingin menepis kehadiran perempuan itu

Tapi bagaimana dengan bayi mereka

Dunianya seakan runtuh mengetahui semua itu

Gion, pria yang telah berhasl membuatnya melambung itu telah bertunangan, dan tunangannya sedang mengandung anak Gion

Ia ingin pergi dari dunia Gion, namun

Rengekan Gion untuk tetap tinggal di sisinya

Ia lalu berfikir, mungkinkah Gion hanya jenuh dalam hubungannya dengan tunangannya itu?

Sehingga mencari sesuatu yang lain?

Tapi apa yang Gion cari darinya? Ia ingat percakapna mereka saat merayakan dua bulan hubungan mereka

Di…

Aku menoleh ke arahnya,

Saat itu kami sedang menikmati Pisang Epe khas makassar, hari kedua kunjungannya ke kota kelahiran Gion.

Ada apa?

Ia hanya menatapku, mesra…

Kamu tahu apa yang membuatku menyukaimu?

Aku cerdas, sahut ku denga percaya diri dan terenyum jahil kapadanya

Dia menower hidungku seperti yang sering ia lakukan

Dasar narsis, ia tertawa memperlihatkan barisan gigi putihnya

Mata sipitnya semakin sipit saat ia tertawa

Dan ia sngat suka

Lalu apa? Apa yang mulia harapkan dari wanita yang hina dina ini, hamba

Sudah..sudah, ampun kalau kamu mulai berteater lagi seperti itu

Hei, aku serius…saatnya sambil menggengam tanganku…

Tak urung aku tersipu

Kamu itu mandiri, bisa hidup di Jakarta sendiri, jauh dari orang tua, dna kamu masih bisa jaga diri

Hahahaha, banyak wanita seperti itu di Jakarta, bukan hal yang aneh

Dengar dulu

Kamu belum berubah yah

Waktu kita masih di kepengurusan OSIS dulu, kamu itu dikenal orang yang keras, berpendirian dan..

Dan baik hati dan tidak sombong

Udah ah, aku jengah nih, stop ya rayuan gombalnya

Kamu tambah cantik kalau cemberut begitu…

Arggghhh,, kenangan… sampai kapan kenangan itu bertahan di memorinya

Ia ingin amnesia selama-lamanya

Berganti kepribadian seperti yang marak di sinetron akhir-akhir ini

Menjadi orang lain

Ia kehilanngan semangat hidup

Dari luar ia tampak biasa-biasa saja

Namun

Jauh di dalam batinya

Ia terpuruk , hancur

Gion mencampakkannya begitu saja , lebih memilih perempuan itu

Ya, tentu saja, ia harus bertanggung jawab

Tapi mengapa ia tidak bilang jauh2 jauh hari

Ia bahkan lebih memilih memandikannya dengan mimpi ketimbang menceritakan yang sebenarnya?

Tidak ada komentar: