Tentang cinta dan masa lalu
Cinta…
aku selalu memuja ciptaan Tuhan yang satu ini
Begitu ajaibnya sehingga bisa membuat orang melakukan apa saja,
bahkan kebodohan-kebodohan yang tak masuk akal, tanpa peduli harga diri yang dipertaruhkan.
Sekalipun akhirnya
yang ada kita hanya merasa terbuang, bodoh dan tidak berarti
Bahkan tidak layak untuk dipilih.
Juga tidak ingin hidup lagi.
Bahkan itu terjadi di titik dimana kita yakin kita sudah mengorbankan segalanya demi dia, tapi yang dia berikan hanya luka. Sounds cliché and dramatic, yes.
Masa lalu.
Lepas dari masa lalu adalah mungkin hal terberat yang bisa manusia lakukan. Setidaknya bagiku. Dan mungkin salah satu hal yang paling diinginkan manusia dalam hidupnya yang singkat adalah memperbaiki kesalahan yang dilakukannya di masa lalu. Dan bila jatuh cinta pada orang salah adalah sebuah kesalahan, maka aku ingin sekali kembali ke masa lalu untuk memilih untuk tidak jatuh cinta sama sekali. Seandainya aku bisa memutar balik waktu (sounds cliche, right?:) )
Aku ingat beberapa paragraf yang pernah aku baca dalam Libido Jungkie: A Memoir for the Radicals, karangan NoRiYu (Nova Riyanti Yusuf). Buku ini berupa kumpulan pemikiran dia.
Berikut salah satu quote dalam tulisannya yang berjudul ”Ke manakah Kita Harus Berlari?”
Saya adalah satu dari banyak manusia yang melangkahi hidup dengan langkah-langkah gagah, tapi pada saat yang bersamaan ada daya yang menarik saya untuk menoleh ke belakang
...
Ada area unconscious yang penuh dengan perasaan dan pikiran terepresi. Kenangan masa lalu yang traumatis atau pengalaman menyakiti orang lain (ataupun disakiti), ternyata tidak pernah benar-benar pergi dari alam nir-sadar kita terus bercokol. Tidak ada pengalaman patologis yang kasat mata, hanya saja ini adalah bahaya laten yang sewaktu-waktu bisa meledak (full blown) ketika kita mengalami pengalaman signifikan yang menimbulkan sensasi perasaan serupa dengan yang di masa lampau- (Libido Junkie, 2005: 25)
Maybe that what happens on me
Begitu takut kalau suatu hari kenangan –kenangan itu menyeret aku ke di titik nadir hidupku dan memaksaku menyerah.
Setengah mati berusaha beranjak dari masa lalu, mengumpulkan tenaga dan kekuatan untuk tidak mengingat sama sekali. Dengan begitu, aku dengan riang bisa melangkah lagi, tersenyum dan menatap dunia dengan tegar, sekalipun harus berpura-pura, pretend to all my surrounding that I’m ok, and keep hiding in my nest.
Tapi ketika ingatan itu berhasil membuatku untuk menoleh ke belakang, saat itu lah aku kembali terpuruk, di titik itulah aku jatuh. Dan itu artinya butuh 7 kali lipat energi untuk bangun lagi, untuk bisa mengumpulkan kekuatan untuk melangkah.
Aku sudah lelah dengan semuanya dan memilih percaya bahwa mungkin dengan memaafkannya aku akan lebih tenang.
Menerima semua dengan IKHLAS dan RELA serta YAKIN bahwa inilah yang terbaik buatku. Sulit dimengerti memang, tapi semuanya pasti terjawab suatu saat nanti.
Memilih mengalah dengan egoku untuk bisa melihat kenyataan dengan hati lapang.
Juga memaafkan diriku sendiri yang pernah memiliki rasa itu terhadapnya.
Aku mencoba mengerti bahwa terkadang kita menutup mata bahwa semua itu adalah rencana Allah, Sang Sutradara Sejati, yang tak mampu kita pahami dan jabarkan. Mungkin karena otak kita yang terlalu kecil untuk memahami rencana besar yang Allah siapkan buat hamba-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar