Kamis, 31 Juli 2008

Love of Our Life

Someone called me a couple nights ago and said:
Dia ninggalin aku...
Kenapa ia harus pergi?
We are fine together.
Dia cinta mati aku
He is love of my life...
I just kept silent.
Didn’t know what I should say to her.
Till she decided to end our phoning.
I just wish she could cope with that.
Then I come to my own world.
Love of our life? Why bother with that?
Aku sudah lama berhenti mempertanyakan itu...
Karena semakin aku bertanya, semakin banyak ketidaktahuan lain yang menyerangku.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi sementara titik waktu terus berjalan.
Tapi mestikah kita berhenti di satu titik ketika di titik itu kita kehilangan arah?
Toh kita masih punya hati untuk menuntun kita.
Kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan untuk kita.
Apa maksud dari semuan rentetan titik peristiwa pahit yang tak pernah bosan datang...
Seperti belajar merangkai puzel, puzel kehidupan
Tentang love of our life,
Ada banyak cinta sebenarnya
Cuma mungkin selama ini kita telah memusatkannya pada satu hati.
Maka ketika hati itu memilih pergi
Kita tak tahu harus berbuat apa
Aku hanya tidak berani mengatakan kalau Si A itu cinta dalam hidupku,
pusat di mana duniaku berputar
Karena aku tidak pernah tahu hidup ini akan kemana.
Mungkin kita berjodoh dengan si A pada suatu waktu.
Tapi suatu saat ketika waktunya tiba, kita harus melepasnya.
Do we stop?
Kenapa tidak melanjutkan hidup?
Hidup akan berakhir seperti apa akan tetap jadi misteri.
Karena otak manusia terlalu kecil untuk tahu itu.
Apapun yang terjadi, nikmati itu sebagai salah satu episode hidup yang harus kita lewati.
Huh, mudah mengatakannya bukan?
Tapi ternyata menjalaninya seperti menapaki jalan penuh beling,
Begitu sulitnya.
Entah berapa pagi yang harus dilewati.
Bangun dengan mata dipenuhi pil air mata.
Kepala yang seolah yang diberati berton-ton beban.
When it happened to you...
When someone decided to go...
Tanya hatimu sekali lagi
Is he the one u want to spend your life time with?
If yes, Is he the best one for you?
Sementara hati kecil kita tidak bisa diharapkan untuk menjawab itu.
Tapi apakah kita harus berhenti di situ?
Berhenti mencintai?
Satu-satunya jalan, kita harus meneruskan hidup.
Dengan segala kerumitan dan namun berlimpah berkah di dalamnya.
Toh semua pertanyaan dalam hidup ini tidaklah mesti menemui jawabnya.
Pasrah, berharap yang terbaik namun tetap prepare for the worst andai skenario terburuk yang ditawarkan.
Karena terkadang mata dan hati hanya ingin melihat apa yang kita inginkan.
Dan kita dikelilingi oleh banyak hal yang tidak kita inginkan di sekitar kita.
Seseorang pernah bilang
Konon kita memang harus bertemu dengan orang yang salah sebelum kita dipertemukan dengan orang yang tepat.
Dan tentunya yang terbaik buat kita.
What do you think?


Tidak ada komentar: