Kamis, 31 Juli 2008
It’s Just Beginning Part II
Previously…
Dea memutuskan berangkat ke Palangkaraya. Meninggalkan semua impiannya di Makassar demi mebangun dunia baru yang Ia sendiri belum tahu seperti apa. Sahabat-sahabatnya Reza dan Tata, ,mencoba menguatkan langkahnya mengambil keputusan. Fadil suaminya yang yang harap akan menahannya malah berbesar hati untuk berpisah sementara waktu.
Dea seolah mengendarai kereta takdir yang ia buat. Ia masih tidak yakin dengan keputusan yang telah diambilnya. Ia bahkan tidak tahu sama sekali tempat yang sedang ia tuju kini
Kelulusan Dea dalam mengikuti tes CPNS kemarin telah mengubah hidupnya, membawanya ke kota ini…
………………………………………………………………………………………………
7. Deafranza 29-08-1984 Kalimantan Tengah
………………… …………………………………………………………………………..
Dea ingat kertas di mana namanya terpampang sebagai salah satu peserta yang berhasil lolos seleksi.
Seumur hidup Dea, tak pernah sekalipun ia bermimpi jadi PNS, Bangkan semenjak ia mengenal kata-kata cita-cita waktu Ia masih di TK dulu, PNS pun tak pernah terlintas, yang ada dia menyebut, presiden, dokter, polwan, ahli bahasa, artis dan yang terakhir yang membekas dalam di hatinya adalah arsitek,
Lalu kini ia harus terdampar di sebuah kota yang 70% lahannya adalah hutan
Jadi PNS,
Ragu sempat memberatkan langkahnya mengambil keputusan, Tapi keinginannya untuk mencari suasana baru selain sumpeknya Makassar juga dukungan sahabatnya membuat mengambil pekerjaan itu, Teringat obrolannya dengan Fadil seminggu lalu
Demi kakek, Za..Demi impian kita.
Doain aku yah Dil”.
Fadil membawa Dea dalam pelukannya yang hangat.
Yang entah bagaimana selalu bisa membuatnya tenang. Makasih Ya Rabb, Engkau telah memberi aku suami yang begitu melindungi.
Palangka Raya, here I come…kata Dea dalam hati, sambil mengarahkan pandangannya ke sekeling. Pemandangan hutan dan rawa yang sempat ia lihat dari jendela pesawat tadi seolah mengisyaratkan bahwa tempat ini sama dengan Makassar. Sama-sama punya hutan, Bedanya, bila di Makassar hutan beton, di kota ini adalah hutan belantara. Asli! What a life!
Setelah mengambil bagasinya, Ia bergegas ke ruang tunggu, Ibu Dian yang dia hubungi dua hari sebelum keberangkatannya, bersedia menjemputnya di bandara .Dari informasi yang dia peroleh di kantor cabang Makasar Ibu Dian adalah koordinator kepegawaian di kantor yang akan ia tempati bekerja.
Selamat datang di Palangka Raya Ibu Dea,
Seorang ibu yang dengan kertas bertuliskan namanya berdiri tak jauh dari pintu keluar bandara.
Bagaimana perjalanannya De, sapa Ibu Dian hangat!
Lancar Bu,
Beginilah Palangka Raya De, Hutan dimana-mana. Kata Bu Dian mengisi kekosongan perjalanan ke rumah dinas yang telah disiapkan untuknya.
“…”
C’mon Deafranza, Thank God for this. You’re so luck, katanya lagi-lagi menguatkan hati.
To be continued...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar