Kamis, 31 Juli 2008

Better That Way…



To : mysoul@hotmail.com
From : myfairy@hotmail.com
Subject: I’m leaving…

Jo, semoga duniamu masih baik-baik saja. Setelah hampir lebih 339 jam tak ada kabar darimu, aku mulai bertanya-tanya. Pun mempertanyakan hubungan ini. Ini bukan yang pertama kalinya, dan itu membuatku tersadar kalau mungkin kamu memang hanya mempermainkan aku. Mungkin aku tak lebih dari tempat persinggahan lelahmu saat dunia tak bersahabat.
Dari awal aku sadar kalau aku tak boleh berharap banyak, toh kamu tak pernah menawarkan lebih. Hanya bentuk persahabatan, bestfriend, selalu itu yang keluar dari bibirmu, tapi entah, aku seolah tak peduli. Aku menikmatinya. Suaramu sudah seperti candu yang menenangkan aku. Aku benci mengakui kalau I’m addicted to you. Ahh, mungkin memang salahku yang tak bisa menempatkan persahabatan itu, aku yang tak bisa mengontrol perasaan. Sms-sms mesra itu aku tahu itu bukan dari hati kamu, you’re not into it, tapi sekadar bentuk keisengan belaka. Mungkin kamu tidak sadar atau bahkan kau benar-benar tahu pasti bahwa perempuan sangat senang dimanja, dibanjiri perhatian…
Cintakah?
Rasanya terlalu dini bagiku. Tapi let’s say I was too exhausted, berpura-pura bahwa aku juga menganggapmu sahabat, sementara ada sejuk mengaliri hati setiap dering suaramu menggetarkan telingaku. So, I decided to go. Sebelum semuanya terlanjur jauh. I think this is the time. I just don’t wanna be a hypocrite any more; keep telling my self that I don’t need you.
Dan cinta selalu datang tanpa diminta…
Sejak kamu hadir kembali, aku merasa jantungku mulai bekerja lagi, mulai memompakan darah ke pori-pori di tubuhku, ke nadiku, memberiku semangat baru. Perlahan ada yang berubah, semua tak lagi sama. Semua sms itu menjadi pengobat lelahku menghadapi dunia. Perhatian-perhatian itu menjadi pelecut semangatku menjalani rutinitas yang telah menjadi berhalaku. You may say I was too cliché, tapi itulah kenyataannya. Kenyataan yang membuatku menangis. I just can’t stop this feeling grow that way.
U don’t want it happen, do you?
Sorry if I ruined everything.
You are just too special, too good to be true. Tough it’s hard but I think I have to do this.
Thanks for everything, terutama untuk telinga yang mendengar. It means a lot to me.
You are the best I ever had.
Wish u the best thing in life,
always…
I hate to say goodbye, so see you…
I’m leaving…

Deta membaca email itu sekali lagi. Ada ragu menjalari hatinya, perasaan takut kehilangan yang semakin menjadi dan bimbang. Tak urung dia mengarahkan kursor ke”send” pada akhirnya. Dia menggelengkan kepala, mencoba menyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah keputusan yang terbaik yang harus dia ambil untuk saat ini, sebelum ia betul-betul sakaw. Semua harus diakhirinya, saat ini juga. Who knows I might feel better, kata hati Deta menyeru.
Jose Andrianka. Lelaki itu hadir kembali setelah 4 tahun menghilang. Jose adalah teman se-angkatan sekaligus teman diskusi yang seru semasa kuliah. Lelaki tanpa aturan yang tahu segala hal itu sudah seperti ensikopledia berjalan di mata Deta. Hubungannya dengan Jose adalah sebuah bentuk persahabatan tanpa syarat. Deta tidak pernah bertemu lelaki itu semenjak wisuda. Kesibukannya sebagai konsultan selepas kuliah kemarin betul-betul menyita perhatiannnya. Sampai suatu hari Jose mengiriminya sms, menanyakan kabar Deta, dan tentang perasaan kehilangannya yang teramat sangat. Pada awalnya Deta hanya menganggap tidak ada yang aneh dari sms itu. Deta membalas sms itu secara wajar. Belakangan lelaki itu mengiriminya sms hampir lima kali tiap hari bahkan meneleponnya sekadar menanyakan kabar, sudah makan apa belum dan semua bentuk perhatian lainnya. Deta berusaha menganggap semua itu hanyalah perhatian wajar dari seorang sahabat. Di luar perkiraan, perasaannya ternyata tak mau kompromi.

*
Tengah malam, ponselnya berdering. If I ain’t got you-nya Alicia Keys. Hampir 1 bulan nada dering itu tidak berbunyi, nada yang khusus dia set hanya untuk Jose. Dan malam ini, seperti malam-malam sebulan yang lalu, nada itu kembali mengalun, kali ini momennya yang tak dia duga sama sekali. Toh sejak ia mengirim email itu. Ia sudah tak berharap banyak. Nada itu kembali mengalun, menariknya ke dunia nyata. Tangannya sudah nyaris menekan key”answer ‘ketika tiba-tiba suara hatinya berseru, “Tidak, Deta, jangan angkat, kamu akan kembali terbuai oleh suaranya, dan kamu tahu kan, kamu pasti akan luluh, Ayolah kamu bisa, kamu pasti bisa tanpanya! Suara Vira sahabatnya juga kembali terngiang ”C’mon, you deserve better, he is not the one, he doesn’t in love with you, he just playing a game. You truly understand the truth about him”. Kata-kata Vira telak mengurungkan niatnya menjawab telpon itu. Nada dering itu berhenti juga. Ppuhh, Ia menarik nafas lega, namun baru saja ia ingin memejamkan mata sebuah pesan baru masuk. Jose.
What did I do wrong? We were fine together!?
From: 085242092xxx
Sent: 23-03-2007
23.09.56

Isi sms itu lagi-lagi hampir membuatnya luluh. “Tidak Deta, mungkin bagi Jose, semua baik baik saja, tapi sungguh tidak bagimu” hati kecilnya memberontak.
Lagi-lagi pesan baru masuk.

Maaf, aku memang sibuk akhir-akhir ini, tapi sungguh tidak ada maksud mengabaikanmu. Please pick up my call. We need to talk…
From:
From: 085242092xxx
Sent: 23-03-2007
23.48.04

Jose masih mencoba menelpon setelah itu, namun Deta tetap tak bergeming.
Satu pesan baru masuk.
U are still my best,
My windmill, what’s wrong with you?
From: 085242092xxx
Sent: 23-03-2007
23.59.36

Lagi-lagi Deta menggelengkan kepala. Windmill. panggilan saying Jose padanya. Untuk sekian kalinya ia menarik nafas panjang, sekadar melegakan dadanya yang sesak. Lalu ia memutuskan membalas sms itu.

To: 085242092xxx
Maaf Jo, aku tak bisa. Aku tidak bisa menjalani hubungan ini. Please, jangan hubungi aku lagi. Just go away. It would be better that way.

Setelah tombol ‘send’ ia tekan, Ia mematikan ponselnya. Ada perih menjalari hatinya, namun bagaimana pun dia sudah mengambil keputusan.
Ketika Deta menghidupkan ponsel keesokan paginya puluhan sms masuk. Semua dari Jose. Dengan sekali tekan delete all. Sms sms itu pun terhapus, tanpa satu pun yang ia baca. Toh ia sudah bisa menebak apa isi sms itu. Lagi-lagi ia menghela nafas, namun galau itu tak juga pergi. Ketika ia melangkah ke luar, di teras depan telah penuh dengan bunga mawar putih kesukaannya, dari Jose, namun tanpa membaca kertas putih yang bertengger indah di sana. Ia bergegas ke kantor.
Sampai di kantor, Deta telah mendapati mejanya penuh dengan bucket bunga. Lagi- lagi mawar putih. Hatinya mulai menangis. Namun Ia putuskan untuk tetap fokus, sampai pada saat harus mengecek email dari kliennya, entah kekuatan dari mana yang menggodanya untuk membuka email pribadinya. Ada satu unread message.

To: myfairy@hotmail.com
From: mysoul@hotmail.com
Subject: Please don’t go…

Dear Deta,
Aku tak tahu apa yang membuatmu berubah dingin seperti ini. Yang aku tahu aku membutuhkanmu. Bagiku persahabatan kita adalah segalanya, kamu terlalu berarti bagiku. Aku takut membuatmu terluka. Kamu tahu, lelaki seperti apa aku. Urakan, unpattern person, a kinda guy who likes wondering around, sleeping around…
I have nothing. Sungguh aku tidak punya apa - apa untuk dibanggakan. Kamu tahu itu, Aku sama sekali tidak bermaksud mempermainkanmu, apalagi memanfaatkanmu. Aku hanya tidak ingin menawarkan apa yang aku tidak punya. Aku tidak ingin memberimu mimpi, karena aku tahu kamu pantas mendapatkan yang terbaik. So if you wanna go because of that reason, there is nothing I can do.
Aku tidak menyalahkan perasaanmu. Mungkin memang aku yang keterlaluan, tak berperasaan. Bilang aku pengecut, bilang aku player, aku bisa menerima semua itu, tapi please stay, u are my bestfriend. Kamu punya tempat khusus di hatiku dan aku menghormati itu. Ta, aku memang belum dewasa. Aku belum berani memegang komitmen. Mengertilah, kamu tahukan, terhadap diriku pun aku belum bisa bertanggung jawab, how can I be your man?
Please don’t go, I need you…
[…]I never say that I didn’t need you so wrap your arm tight around me_ NFG

Email Jose membobolkan pertahanannya, Ia hampir menangis, untunglah ia punya ruang pribadi di kantor ini. Ia pun memutuskan membalas email itu.

To: mysoul@hotmail.com
From: myfairy@hotmail.com
Subject: Re: Please don’t go…

Maaf, Jo. Mungkin ini yang terbaik bagi kita untuk saat ini. Beri aku waktu. Aku ingin menata hatiku lagi. Sampai aku siap, betul-betul menganggapmu sebagai sahabat, betul-betul bisa memilah perasaan ini.
[…]There so much I can take,
And I just got to let it go
And who knows I might feel better
If I don’t try and I don’t hope…
The Corrs_ What can I do
Take care always…
*
“Hi, masih ngelamunin Jose ya?” Suara Vira membuyarkan lamunannya.
“Hey, kamu dah makan siang?” Deta mencoba mengalihkan pembicaraan, “Ayo ke star buck sekarang, you look messy, dear!” Tanpa menunggu jawaban Deta, Vira mengambil tas Deta keluar, mau tak mau Deta mengikuti langkah sahabat sekaligus teman satu divisinya itu.
“Now tell me, what’s going on? Bagaimana setelah kamu melepas Jose?”
Serang Vira begitu mereka mendapat meja.
“Ta’ kamu yakin akan keputusanmu ini kan?”
“Aku tak pernah seyakin ini Ra. Please I don’t wanna talk about this”
“No dear. Kamu tidak bisa terus-terusan lari dari kenyataan. Lihat dirimu sekarang, ini bukan Deta yang aku kenal, you look so gloomy”.
“I’m just too tired”.
“Ta, kamu tidak ingat? Aku sudah mengenal kamu lebih dari lima belas tahun, kamu tidak bisa bohong”.
“Ra, please bantu aku, kamu juga kan yang pernah bilang kalau aku harus meninggalkan Jose”.
Vira terdiam.
Aku hanya butuh waktu untuk melupakan Jose, you know time will heal.
Akhirnya Jose sama sekali tidak menghubunginya, Deta merasa kehilangan, namun Ia tak mau ambil pusing. Toh Ia sendiri yang meminta laki-laki itu untuk tidak mengganggu hidupnya lagi.
“Hi, you look better these days” bisik Vira saat mereka bertemu di lift tadi. “Thanks”
“Kerjaan memang bisa jadi escape yang bagus ketika patah hati.” Vira berkata tersenyum menggodanya. Deta hanya mampu mencubit lengan sehabatnya itu.

To: mysoulmatefyra@hotmail.com
From : detaurora@hotmail.com
Subject: I’m totally over him…

Ra, let’s say I’ve learned a lot. Hidup mengajari aku satu hal. Terkadang kita merasa begitu cintanya pada seseorang. Padahal kita tidak tahu benar tentang dia. Bodoh bukan?!Begitupun perasaanku pada Jose. Tagline “cinta itu buta” sebenarnya salah, mata kita yang buta dan hati pun ikut tumpul karenanya. Logika pun terbantahkan. Kita terkadang tidak rela melepas sesuatu yang sekian waktu membahagiakan kita. Padahal mungkin dengan melepaskannya beban yang ada di hati kita terangkat dan mungkin kita akan lebih bahagia. Look at me now. Aku merasa jauh lebih tenang.
Itulah anehnya cinta, dan herannya kita juga ikut-ikutan aneh. Mengambil keputusan terbodoh dan menyerahkan hidup sepenuhnya pada orang yang kita inginkan, bukan yang kita cintai.
Mungkin memang benar tak pernah ada yang betul-betul bisa mengisi hati kita seutuhnya, selalu akan ada orang lain, datang dan pergi. Mereka meninggalkan kenangan lalu pergi, kadang luka, kadang manis. Kamu ingat kan waktu aku menangis darah oleh Andre, Ricky lalu Sany:p. Aku selalu berhasil walau tertatih. Sekarang Jose. Aku memilih percaya bahwa aku pasti bisa melaluinya.
Aku telah menghapus semua sms dan email Jose. Fotonya telah aku bakar dan ternyata itu membuatku jauh lebih baik. I’m totally over him. It better that way.No more memories. I just left it behindJ.Thanks for support.

Satu pesan baru masuk.
You are back!!! :) Wanna go shopping tmr? Jimmy Chao punya produk terbaru!!!
From: 0812421xxx
Sent: 19-09-2007
18.45.01

To: 0812421xx
I can’t wait for tomorrow:) CU

Satu pesan baru, Deta siap-siap tersenyum akan balasan Vira yang selalu konyol.
Hi, besok ada waktu?
From: 085242092xxx
Sent: 19-09-2007
19.09.36

Tidak ada komentar: