Lihatlah perahu yang jauh di sana itu indona”
Halawiah mencoba mengikuti arah pandangan suaminya sambil tetap membiarkan kebisuan hadir di antara jeda ucapan suaminya.
Perahu itu seperti tak mampu lagi menantang angin, puppuni sumangena, seperti kita, menua tanpa anak-anak yang peduli…
Halawiah menatap mata suaminya, mata yang dulu penuh semangat itu memang tampak suram kini, penuh beban.
O ambo’na,janganki bilang begitu.Biarkanlah mereka menemukan sendiri jalannya. Toh mereka sudah besar. Mungkin Puang Alla taala belum membuka pintu hati mereka untuk kembali sama kita.
Sampai kapan indo’na?
Bukankah sudah lima kali lebaran haji kita lewati tanpa mereka?
Istrinya hanya diam. Hening berbahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar