Kamis, 31 Juli 2008

It's just the beginning Part III

Previously…
Dea memutuskan berangkat ke Palangkaraya. Meninggalkan semua impiannya di Makassar demi mebangun dunia baru yang Ia sendiri belum tahu seperti apa. Sahabat-sahabatnya Reza dan Tata, mencoba menguatkan langkahnya mengambil keputusan. Fadil suaminya yang yang harap akan menahannya malah berbesar hati untuk berpisah sementara waktu.
Dea seolah mengendarai kereta takdir yang ia buat. Ia masih tidak yakin dengan keputusan yang telah diambilnya. Ia bahkan tidak tahu sama sekali tempat yang sedang ia tuju kini.


Kata adalah Doa. Itu kata Fadil yang selalu berusaha ia camkan baik-baik.
Dea memang pernah bilang kalau dia sudah bosan dengan hutan beton yang ia lihat tiap hari, Ruko, Pete-pete, sebutan untuk angkutan umum di Makassar ada di segala penjuru, Mall –mall baru dibangun di mana-mana. Green spot yang bisa dia lihat kini hanya lapangan karebosi, lapangan Sudirman, dan seputaran Cendrawasih. Selebihnya, gedung dan gedung.
Bahkan keindahan Losari juga sama sekali tak mampu membuatnya merasa lebih baik. Hiruk-piruk Makassar telah menyelipkan keinginan untuk keluar dari kota kelahirannya itu, di otak dan di hatinya. Ditambah dengan kemacetan yang melambatkan gerakannya tiap hari.
“Akhirnya keluar Makassar juga!”
Itu yang Fadil bilang saat Dea memberitahukan Fadil akan kelulusannya. Dea harus termakan ucapannya sendiri,
“Makanya kalau ngomong itu hati hati, nah sekarang kejadian kan, kamu benar –benar meninggalkan Makasar”.
”Ya, waktu itu kan aku cuma bercanda, Tahu kan saat itu aku lagi sumpek banget, deadline, kerjaan yang itu-itu saja, teman-teman yang itu saja”.
”Suami yang itu-itu saja, memotong ucapannya sambil menatap Dea dengan pandangan yang sulit diartikan.
”Maksud kamu apa?”
Nggak, aku cuma bercanda, abis seneng lihat kamu sewot begitu.
Hon, I’m serious,
I love seeing you like that!
Oh cry me a river, I get touchy, Ntar dulu kali ngerayunya, So gimana dong?
Gimana apanya?
Iya, what should I do?
Fadil menggenggam tangan Dea
Honey, Take it, this is a better deal for you
”Tapi, kita jauhan. Akan jadi seperti apa rumah tangga kita nantinya?”Siapa yang akan merawat kamu? Bikinin kamu teh, cuci baju, masak, bla...bla
”Hahaha, kamu ini hidup di jaman mana sih?Halloo, internet , hp, 3G, mesin cuci, mo dikemanain? Teknologi dipake dong”.
Lagian, aku akan usahakan supaya kantor bisa menerima permintaan aku pindah sana. Cuma ya, mungkin butuh beberapa waktu lama”.
”Fadil, yang ada itu, istri yang ikut suami, bukan malah sebaliknya”.
”Sayang, sebagai suami aku memang harus melindungi kamu, tapi
pekerjaan kamu lebih menjanjikan masa depan. Sementara pekerjaan aku?
Dea masih terdiam.
”Apa kamu ga bakalan kangen?Dea masih tidak yakin.
”Nggak! Sayang, itu pertanyaan bodoh, kamu tahu kalau aku sayang banget ama kamu”.
”Aku dukung segala keputusan kamu, aku tidak mau bilang kamu harus ini kamu harus ambil itu”, lanjut Fadil.
“Tapi…
”Berapa sih tiket Makassar-Palangkaraya? Trust me, di manapun kamu, u already the voice inside my head.. Kamu tuh udah ada di sini, kata Fadil seraya membawa tangan Dea yang sedari tadi digenggamnya ke dadanya”.
Laki-laki itu memang selalu punya cara untuk menenangkan dirinya
Oy iya kita ke café yuk,
“We celebrate your luckiness”,
And we are being apart, Kata hatiku membisikkan kata-kata itu,
Dil,…
Fadil menghentikan niatnya menyalakan mobil.
”Kenapa aku takut”
”Takut?why so?”
Aku ga mau kehilangan kamu, aku takut kamu berpaling dan tinggalin aku, aku…
Hush, …itu Cuma selentingan hati kamu saja. Kamu pikir aku nggak?
”Sayang, jujur aku sedih banget, tapi ini kesempatan kamu. Anggap aja ini tantangan, kamu tertarik banget kan ama yang namanya orang Dayak?”
”Fadil”!
”Deafranza..”
Dea melempar pandanganya ke arah lain
”Hey, Fadil meraih kedua bahu Dea, memalingkan wajah dea ke arahnya
Za, listen to me…
Things don’t go as planned, Hidup itu ya seperti ini, kita dikelilingi oleh hal-hal yang tidak kita inginkan, tapi harus kita jalani,
Hidup aku ada di sini, Dil.
I know… tapi bukan berarti kamu tidak bisa hidup di sana kan?
Bukannya kamu itu wanita luar biasa? Bisa survive di mana aja?
That’s not what I mean. Aku…
….
Dea tak bisa berkata apa-apa lagi
Bibir Fadil mengunci mulutnya

Tidak ada komentar: