Rabu, 25 Maret 2009

Lagi-Lagi Masalah


Tulisan ini terinspirasi dari postingan salah satu sobat kita di MP. a.k.a. (saat membacanya tumben nih anak bijak banget, lagi kesambet kali ya???)hehehe, Peace Muse!

Berikut nukilannya

“…Sebuah benang merah kejadian hari ini yang membuat saya berpikir, mungkin ini jawaban dari Tuhan ^^. Ok, sebenarnya orang yang ada di sekitar saya juga mempunyai masalah yang hampir sama dengan apa yang saya alami…”


Tulisan yang bagus (dan tidak abal-abal ya Jo? )! cukup untuk membuat saya berhenti sejenak beraktifitas, lalu berkontemplasi mau kemana sih hidup ini kan dibawa? Segala pangkat jabatan, kenyamanan lahiriah dan batiniah yang dirasakan penulis menurut saya memang terkadang termanipulasi oleh satu hal, yaitu MATERI. Tulisan sobat kita ini sepertinya lahir dari hasil JERIHALE sessionnya (iya kan Muse? ) tentang masalah *L* yang dihadapi teman-teman yang bersangkutan (kok saya jadi ikut-ikutan ya?, qeqeqe). Yang unik adalah opini Muse berikut

"..Dan saya bersyukur tersiksa oleh angka-angka dan rumus-rumus daripada tersiksa oleh hal yang tidak penting yang bisa menghancurkan masa depan.."

Hmmm....patut dicoba

Lalu tanggapan saya adalah.

Just life the EGO rule,
E: asy
Go: ing...

Aturan” EGO” ini saya peroleh dari komentar teman terhadap salah satu catatan saya di facebook beberapa waktu lalu. Benar juga. Hidup ini sudah rumit kok, buat apa dibawa susah. Tapi tidak berarti saya menutup mata terhadap apa yang terjadi di sekeliling saya. Apalagi tidak memikirkan solusi permasalahan yang saay hadapi sambil menunggu keajaiban datang dan sim salabim..masalah saya selesai begitu saja, tanpa ada proses pembelajaran di dalamnya. Saya sepenuhnya sadar, bahwa saya harus tetap berusaha mencari jalan keluar terbaik, yang tentunya bisa saya ditemukan dengan kepala dingin, pikiran jernih dan hati lapang.
Yang jelas, selama naluri masih bisa dipakai untuk menilai segala di sekiiling kita, selama itulah hidup masih bisa dimaknai. Tidak dengan menutup mata dan tidak mau ambil pusing. Setiap orang pasti punya masalah, tentu dengan kadar yang sudah ditetapkan Tuhan, sanggup atau tidak kita menghadapinya. Problems is the middle name of life. Dan bagi saya, masalah justru yang mengajarkan saya bagaimana menjadi dewasa-berpikir-bertindak-berbicara-bersikap, lebih bijak dan bisa melihat setiap persoalan tidak hanya dari sisi yang itu-itu saja, tapi juga dari sudut pandang orang lain.

Nah, ketika menghadapi orang dengan masalah hidup setumpuk yang lebih berat dari masalah saya, saat itulah saya juga baru sadar bahwa saya ternyata jauh lebih beruntung karena mendapatkan masalah-yang-belum-ada-apa-apanya-itu. Saya lalu buru-buru bersyukur dan beristighfar karena telah terlalu takabur menilai Tuhan telah begitu tidak adilnya pada saya.


Lalu ketika kita berusaha menguatkan teman yang sedang memiliki masalah, saat itu saya pasti bilang (ungkapan yang terdengat sangat klise) "SABAR. SYUKURILAH APA YANG KAMU MILIKI SEKARANG. JANGAN MENGELUH TERUS.

(Catat: Seklise apapun komentar ini, kalau diterapkan tetap manjur kok )

Yang jelas orang lain tidak sebahagia yang kita kira (contoh para koruptor itu juga pasti tidurnya tidak nyaman).

Yeah, hidup tanpa keluhan dan gerutuan memang sepertinya sangat mustahil dilakukan tapi itu akan membuat hidup jauh lebih mudah. Mengapa? Karena energi yang kita sisihkan untuk mengeluh akan mengurangi energi kebahagiaan dan rasa syukur dari apa yang kita miliki sekarang. Nothing comes easy, right? (Dr.Mr)



P.S.
  1. Pendapat saya pribadi :tentang "L" word: Sepertinya kata ini terlalu sering kita salah artikan, terlalu sempit dimaknai ya, jadi kok kesannya apatis banget dengan kata yang satu itu, hehehe.(Ada apa nih Muse? )
  2. Well, yeah it's not the time for preaching I know. Tapi bukankah harus ada orang yang berpikiran jerbnih ketika banayak orang yang pikirannya lagi mumet?
  3. Saat ini saya juga tengah menghadapi masalah yang begitu berat (menurut saya tentunya, jadi tulisan ini saya tujukan untuk diri saya, agar berbesar hati, lebih sabar dan tetap bisa berpikir jernih.

Sumber gambar: spiderman.psych.purdue.edu dan lawfirmblogging.com



Tidak ada komentar: