Selasa, 06 Januari 2009

Antisipasi Kerusakan Borobudur.

Mengalihkan sejenak perhatian kita dari Jalur Gaza, isu dampak pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan membuat Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur merencanakan penelitian mengenai pengaruh pemanasan global terhadap bebatuan Borobudur. Penelitian itu dimulai dari mengamati dan mengumpulkan data menyangkut kelembapan, suhu dan curah hujan selama 20 tahun terakhir. Penelitian tersebut diperkirakan membutuhkan waktu satu tahun.

Selain masalah pemanasan global, aspek kebersihan sepertinya juga harus mendapat perhatian yang serius baik dari pihak pemelihara situs budaya peninggalan sejarah tersebut maupun dari pengunjung candi. Akhir Desember lalu, saat saya dan keluarga sahabat berkunjung ke sana, kasus pengotoran candi—yang entah sadar atau tidak—semakin menjadi-jadi. Sampah di mana-mana. Saya bukannya mau sok peduli atau apa. Tapi miris rasanya melihat situs purbakala yang membuat bangsa ini dikagumi oleh bangsa lain tersebut dalam keadaan demikian. Melihat itu, dalam hati saya berujar, tidak heran bila kemudian Borobudur tidak lagi menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sudah menjadi hukum alam bahwa bila suatu barang berharga—sebagus apapun dan setinggi apapun nilainya—bila tidak dirawat lama kelamaan pasti rusak. Demikian halnya dengan Borobudur. Semakin berkurangnya kesadaran untuk menjaga kelestarian candi dan meningkatnya sifat egoisme bangsa pemiliknya menjadi salah satu alasan tepat yang memicu hal tersebut.

Tidak ada komentar: