Jumat, 17 Oktober 2008

Apa Tuhan juga punya program “Sunset Policy”?

Turut Bersukacita
Telah meninggal dunia dengan wajah sumringah sambil memegang cek sebesar 500 juta
rupiah, anak, kakak, adik, om(huh, om?) selingkuhan, kami yang tercinta
Samuel Mulia (46 tahun kurang tiga bulan)
Pada: Jumat di sebuah gedung perkantoran
Pukul: 11. 32 WIB
Jenazah tak akan disemayamkan dan tak akan dimakamkan segera karena memalukan keluarga. Mau datang kek, enggak datang kek, tak jadi masalah. Kami tidak menerima sumbangan apa pun, karena almarhum sudah memegang cek sebesar 500 juta.


Kami yang berdukacita: Turut bersukacita:
(kosong tak ada nama) (sejuta nama yang tak bisa kami sebutkan satu persatu)




Nukilan di atas adalah obituari Samuel Mulia di Kompas Minggu 12 Oktober kemarin, yang dia bayangkan akan berbunyi seperti itu ketika ia meninggal kelak. Satu-satunya obituari yang tak urung membuat saya terseyum. Ya, seperti hari minggu-minggu sebelumnya, saya asyik menikmati Harian Kompas. Walaupun harus menanti sampai pukul sepuluh pagi karena loper baru mengantar pada jam segitu (alasan jarak ). Seperti biasa saya langsung cari rubrik Parodi punya Samuel Mulia, satu rubrik yang paling saya suka di Kompas Minggu. Well..well intronya cukup kali yaa;p

Judul tulisan Samuel Mulia lagi-lagi (seperti biasa) kembali membuat saya terhenyak. Judul parodinya kali ini adalah ”Meninggal”. Dia bercerita tentang suami temannya yang mati mendadak. Ia pun tercenung, bagaimana kalau dia tiba-tiba juga meninggal mendadak?Di tulisan itu dia juga menyinggung masalah pencairan cek oleh para wakil rakyat, juga tulisan tentang sebuah perusahaan besar yang mengemplang pajak hingga triliunan rupiah, dan liputan investigasi pembunuhan seorang pembongkar bisnis barang-barang peninggalan kuno bernilai tinggi yang menyebabkan nyawanya melayang di suatu dini hari (Arkeolog Lambang Babar Purnomo.red).
Samuel Mulia membayangkan dialah yang menerima cek, mengemplang pajak, menjadi pembunuh, dan meninggal mendadak, apakah kira-kira yang akan dia jawab ketika Tuhan meminta pertanggungjawaban soal apa saja yang dia lakukan? Kalau di DUNIA, Dia tentu bisa mencari sejuta alasan, berbelit ke sana kemari bahkan mencari pengacara terbaik di negeri ini. Dia bisa melakukan penyuapan, atau menggunakan jaringan pertemanan yang dibangun sejak lama dengan nama-nama kondang ataupun tak kondang, namun memiliki pengaruh luar biasa. Tapi apa itu bisa terjadi di pengadilan negeri AKHIRAT?
Simak nukilan paragrap tulisan Samuel Mulia berikut:
”Siang itu, sepulang melayat, saya ketakutan. Takut kalau hari itu mendadak dipanggil pulang untuk diadili. Mengapa takut? Saya belum siap. Itu perkataan yang sudah bertahun lamanya saya ucapkan dengan ringan. Saya tak pernah siap, tepatnya saya tak pernah mau berusaha untuk siap. Saya lebih asyik menikmati keduniawian yang tidak benar itu dan berpikir Tuhan itu mahapengasih lagi mahapengampun. Jadi saya pikir, Tuhan juga punya program sunset policy”
(Samuel Mulia, Kompas, Minggu 12 Oktober 2008, halaman 19)

(Membaca kata ”sunset policy” yang saya tahu program dirjen Pajak dari iklan di televisi, saya buru-buru mengirim pesan singkat kepada teman yang kebetulan bekerja di kantor pajak dan bertanya apa sih sunset policy itu? Dia menjawab kalau sunsent policy itu adalah pengampunan sanksi pada WP(Wajib Pajak) sehingga pajaknya tidak diaudit oleh pemeriksa pajak).

Saya lalu berpikir apa para koruptor, wakil rakyat yang tidak bertanggung jawab, istri/ suami yang mengabaikan amanah perkawinan alias selingkuh, penyelundup benda-benda bersejarah, pembunuh bayaran, dll juga punya pikiran sama seperti pikiran Samuel Mulia? Maksud saya, apakah mereka pernah berpikir bagaimana kalau mereka tiba-tiba meninggal mendadak?apakah mereka telah siap? Dan apakah saya juga siap?Siap menghadapi pengadilan Tuhan yang maha adil? Siap ketika mulut saya dikunci dan tidak bisa memberikan pembelaan apa-apa mengenai apa yang saya lakukan?

Apa Tuhan juga punya program “Sunset Policy”? (DrMR)



Tidak ada komentar: