Om lagi kepengen bicara yang berat nih, mumpung Senin (sangat efektif untuk membuat Senin kalian tambah “nggak banget”, hehehehe). Sebelum kalian merasa bosan, langsung saja ke inti tulisan ini ya. Narsis, kata ini begitu sering terlontar dalam keseharian, ditujukan pada mereka yang punya kecenderungan untuk MEMUJI DIRI sendiri, dalam porsi berlebihan tentunya. Sikap yang sepenuhnya disadari bisa membuat orang lain yang mendengarnya pengen (maaf) nabok ataupun pingsan di tempat. Dalam banyak kasus sih, si pendengar akan mengalami mual tiba-tiba dan rasa ingin muntah yang luar biasa. Untung saja tidak disertai kejang-kejang dan konstipasi, hehehe.
Dalam politik, juga ada istilah narsisme. Ini terjadi pada para caleg. Ditujukan pada para caleg yang menilai dirinya setinggi langit melalui jargon kampanye yang mereka pasang di atribut kampanye mereka.Sepertinya sifat yang memuja diri sendiri secara berlebihan ini menjadi syarat utama untuk menjadi caleg. Lihat saja atribut kampanye di sekitar kita. Menjelang Pemilihan umum legislatif yang dijadwalkan akan berlangsung pada 9 April 2009 mendatang, ruang publik semakin dipenuhi oleh atribut kampanye calon anggota legislatif (Caleg) dan partai politik. Baliho, poster, stiker, spanduk, dan bendera, memenuhi jalan-jalan, gedung-gedung, rumah, batang pohon, dan kolom-kolom surat kabar. Sejauh mata memandang, di setiap sudut kota, di dekat lampu lalu lintas, di angkot, dsb. Karena ini NEGARA DEMOKRASI-salah-kaprah, para simpatisan partai dan caleg tampaknya merasa SAH-SAH SAJA menaruh atribut tersebut di mana saja ( baca:seenaknya). Tidak peduli atribut tersebut mengganggu pemandangan masyarakat, bahkan membuat eneg yang melihat.
Di setiap poster, caleg, ada yang unik. Ada kata-kata “narsis” seperti berikut:
Berani Bertindak untuk Rakyat
Gotong-royong, Bersih, Kompeten
Korupsi, No’!
Peduli euy
Perhatian
Saatnya Hati Nurani Bicara
Hidup adalah Perbuatan
Kita Waspadai Krisis Pangan
Insya Allah Amanah
Kritis, Tanggap, dan Aspiratif’
Percayakan Pemuda untuk Turun dan Berperan membangun Bangsa
Pastikanlah sudah Terbukti dan Teruji
Jargon-jargon kampanye tersebut hanyalah sebagian kecil dari usaha para caleg untuk meraih perhatian calon pemilih. Selain konsolidasi, mengunjungi tempat-tempat umum, berbicara di radio-radio, membagi sembako pada hari-hari besar agama, mengadakan pengajian, menggelar syukuran, membagi-bagikan kalender, mengaktifkan laman, mengirimkan pesan singkat ke masyarakat serta memasang iklan di media cetak dan elektronik. Namun, jargon-jargon yang terdapat pada poster, stiker, spanduk, dan baliho kampanye tampak menonjol karena berisi kata-kata persuasif. Dengan singkat dan berani, para caleg menilai dirinya setinggi langit, mengonstruksikan citra diri mereka, tanpa peduli apakah citra tersebut sesuai dengan realitas sebenarnya. Oleh pengamat komunikasi politik, Idy Subandi, usaha para caleg tersebut mengarah pada narsisme politik. Betapa tidak, citra diri yang ditampilkan para caleg banyak yang bertolak belakang dengan realitas sesungguhnya (Kompas, 14/02/2008).
Walau hasilnya akan terjawab di pemilu nanti, Apakah menurut kalian, jargon-jargon itu efektif ???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar